Showing posts with label yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label yogyakarta. Show all posts

Museum Wayang Kekayon

Tuesday, October 25, 2011


Museum Wayang Kekayon adalah museum mengenai wayang yang ada di kota Yogyakarta, tepatnya di Jl. Raya Yogya-Wonosari Km. 7, kurang lebih 1 km dari Ring Road Timur. Museum yang didirikan pada tahun 1990 ini memiliki koleksi berbagai wayang dan topeng serta menampilkan sejarah wayang yang diperkenalkan mulai dari abad ke-6 sampai abad ke-20. Wayang-wayang di dalam museum ini terbuat baik dari kulit, kayu, kain, maupun kertas.
Sama halnya dengan museum Wayang di Jakarta, museum ini mempunyai beberapa jenis wayang, seperti: wayang Purwa, wayang Madya (menceritakan era pasca perang Baratayuda), wayang Thengul, wayang Klithik (mengisahkan Damarwulan dan Minakjinggo), wayang beber, wayang Gedhog (cerita Dewi Candrakirana), wayang Suluh (mengenai sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia), dan lain lain. Berkaitan dengan wayang Purwa, museum ini memiliki beberapa poster yang menggambarkan strategi perang yang dipakai dalam perang Baratayuda antara keluarga Pandawa dan Kurawa, yaitu: strategi Sapit Urang dan strategi Gajah.


sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Wayang_Kekayon

Wayang wong

Tuesday, October 18, 2011

Wayang wong

Pandava and Krishna in an act of the wayang wong performance.
Wayang wong also known as Wayang orang (literally human wayang) is a type of Javanese dance theatrical performance with themes taken from episode of Ramayana or Mahabharata.
While wayang gedog usually the theatrical performance that took the themes from the Panji cycles stories from the kingdom of Janggala, in which the players wear masks known as wayang topeng or wayang gedog. The word "gedog" comes from "kedok", which, like "topeng" means "mask". The main theme is the story of Raden Panji and Candra. This is a love story about princess Candra Kirana of Kediri and Raden Panji Asmarabangun, the crown prince of Jenggala. Candra Kirana was the incarnation of Dewi Ratih (goddess of love) and Panji was an incarnation of Kamajaya (god of love). Kirana's story was given the title "Smaradahana" ("The fire of love"). At the end of the complicated story they finally can marry and bring forth a son, named Raja Putra. Panji Asmarabangun ruled Jenggala under the official names "Sri Kameswara", "Prabu Suryowiseso", and "Hino Kertapati". Originally, wayang wong was performed only as an aristocratic entertainment in four palaces of Yogyakarta and Surakarta. In the course of time, it spread to become a popular and folk form as well.

reference: http://en.wikipedia.org/wiki/Wayang