skip to main |
skip to sidebar
Museum Wayang Kekayon adalah museum mengenai wayang yang ada di kota Yogyakarta, tepatnya di Jl. Raya Yogya-Wonosari Km. 7, kurang lebih 1 km dari Ring Road Timur. Museum yang didirikan pada tahun 1990 ini memiliki koleksi berbagai wayang dan topeng serta menampilkan sejarah wayang yang diperkenalkan mulai dari abad ke-6 sampai abad ke-20. Wayang-wayang di dalam museum ini terbuat baik dari kulit, kayu, kain, maupun kertas.
Sama halnya dengan museum Wayang di Jakarta, museum ini mempunyai beberapa jenis wayang, seperti: wayang Purwa, wayang Madya (menceritakan era pasca perang Baratayuda), wayang Thengul, wayang Klithik (mengisahkan Damarwulan dan Minakjinggo), wayang beber, wayang Gedhog (cerita Dewi Candrakirana), wayang Suluh (mengenai sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia), dan lain lain. Berkaitan dengan wayang Purwa, museum ini memiliki beberapa poster yang menggambarkan strategi perang yang dipakai dalam perang Baratayuda antara keluarga Pandawa dan Kurawa, yaitu: strategi Sapit Urang dan strategi Gajah.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Wayang_Kekayon
The wayang beber has strong similarities to narratives in the form of illustrated ballads that were common at annual fairs in medieval and early modern Europe. They have also been subject to the same fate—they have nearly vanished. Chinese visitors to Java during the 15th century described a storyteller or unrolled scrolls and told stories that made the audience laugh or cry. A few scrolls of images remain from those times, found today in museums. There are two sets, hand-painted on hand-made bark cloth, that are still owned by families who have inherited them from many generations ago, in Pacitan and Wonogiri, both villages in Central Java. Performances, mostly in small open-sided pavilions or auditoriums, take place according to the following pattern:
The dhalang (puppeteer, narrator) gives a sign, the small gamelan orchestra with drummer and a few knobbed gongs and a musician with a rebab (violin-like instrument held vertically) begins to play and the dhalang unrolls the first scroll of the story. Then, speaking and singing, he narrates the episode in more detail. In this manner, in the course of the evening he unrolls several scrolls one at a time. Each scene in the scrolls represents a story or part of a story. The content of the story typically stems from the Panji romances which are semi-historical legends set in the 12th-13th century East Javanese kingdoms of Jenggala, Daha and Kediri, and also in Bali.
Showing posts with label Museum. Show all posts
Showing posts with label Museum. Show all posts
Museum Wayang Kekayon
Tuesday, October 25, 2011
Museum Wayang Kekayon adalah museum mengenai wayang yang ada di kota Yogyakarta, tepatnya di Jl. Raya Yogya-Wonosari Km. 7, kurang lebih 1 km dari Ring Road Timur. Museum yang didirikan pada tahun 1990 ini memiliki koleksi berbagai wayang dan topeng serta menampilkan sejarah wayang yang diperkenalkan mulai dari abad ke-6 sampai abad ke-20. Wayang-wayang di dalam museum ini terbuat baik dari kulit, kayu, kain, maupun kertas.
Sama halnya dengan museum Wayang di Jakarta, museum ini mempunyai beberapa jenis wayang, seperti: wayang Purwa, wayang Madya (menceritakan era pasca perang Baratayuda), wayang Thengul, wayang Klithik (mengisahkan Damarwulan dan Minakjinggo), wayang beber, wayang Gedhog (cerita Dewi Candrakirana), wayang Suluh (mengenai sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia), dan lain lain. Berkaitan dengan wayang Purwa, museum ini memiliki beberapa poster yang menggambarkan strategi perang yang dipakai dalam perang Baratayuda antara keluarga Pandawa dan Kurawa, yaitu: strategi Sapit Urang dan strategi Gajah.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Wayang_Kekayon
Wayang beber
Tuesday, October 18, 2011
Wayang beber
Wayang glass painting depiction of Bharatayudha battle
The dhalang (puppeteer, narrator) gives a sign, the small gamelan orchestra with drummer and a few knobbed gongs and a musician with a rebab (violin-like instrument held vertically) begins to play and the dhalang unrolls the first scroll of the story. Then, speaking and singing, he narrates the episode in more detail. In this manner, in the course of the evening he unrolls several scrolls one at a time. Each scene in the scrolls represents a story or part of a story. The content of the story typically stems from the Panji romances which are semi-historical legends set in the 12th-13th century East Javanese kingdoms of Jenggala, Daha and Kediri, and also in Bali.
sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Wayang
Labels:
bali,
baratayuda,
beber,
daha,
Dalang,
dhalang,
East Javanese kingdoms,
illustrated ballads,
Jenggala,
Kediri,
Museum,
pacitan,
rebab,
semi-historical legends,
wayang,
wonogiri
Subscribe to:
Posts (Atom)